Jokowi dan Islam Nusantara di Sumut

SUMUTMANTAP.COM. Seperti diketahui dalam waktu dekat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berkunjung ke Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, untuk menghadiri Silaturrahim Nasional (Silatnas) Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI).

Dari informasi yang sudah beredar presiden akan menginap di salah satu pesantren tertua di Sumatera Utara, yaitu pondok pesantren Musthafawiyah (1912), Purba Baru, Madina. Selain itu, presiden juga akan meresmikan prasasti titik nol awal mula Islam di Nusantara, di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Menarik memang untuk melihat kunjungan presiden waktu itu (23 s/d 24 Maret 2017), tentu bukan karena ia akan hadir ke daerah yang teramat jarang dikunjungi oleh pemimpin negara. Seolah bernostalgia dengan sejarah, Kabupaten Mandailing Natal pernah disambangi oleh Ir. Soekarno pada tahun 16 Juni 1948 dalam mensosialisasikan kemerdekaan di Pesanggrahan, Kotanopan, Mandailing Natal.

Sumatera Utara dan Mandailing Natal menjadi begitu istimewa, karena adanya para tokoh legendaris yang telah memberikan kontribusi besar bagi negara ini, antara lain, Zainul Arifin Pohan, yang merupakan komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, ia adalah putra tunggal dari keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal (1909-1963).

Kita ketahui juga, Adam Malik Batubara (1917-1984) adalah mantan Menteri, ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ia juga tercatat sebagai wakil presiden Indonesia ketiga di masa Presiden Soeharto. Ia merupakan diplomat yang telah mencurahkan pikiran dan gagasan sampai menjelang ajalnya, ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional RI.

Selain dua nama besar yang disebutkan sebelumnya, ada tokoh besar dalam kemerdekaan, yaitu Jenderal Besar A.H. Nasution (Akrab disapa Pak Nas), beliau dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya melawan kolonialisme Belanda. Ia menelurkan banyak pengalaman yang syarat makna serta perjuangan dan idealisme yang menjadi prinsip hidupnya (1918-2000).

Titik Nol
Sampai saat ini tokoh-tokoh besar dari Mandailing Natal (dulunya disebut Tapanuli) telah banyak berjasa bagi keberlangsungan negara ini, pertanyaan kemudian kenapa wilayah tersebut begitu jarang dikunjungi oleh para pejabat negara? Apakah karena telah melupakah bagian penting dari sejarah bangsa. Hal itu tentu menjadi pertanyaan yang perlu ditujukan kepada presiden Jokowi saat kunjungannya nanti.

Sebenarnya, melihat agenda sang presiden ini, seolah ada semangat setelah sekian lama, ada sejarah yang tertimbun, dan ada harapan untuk generasi-generasi muda bahwa Sumatera Utara mempunyai peran strategis tidak hanya bagi negara, tetapi juga untuk perkembangan dan perluasan wilayah Islam di Nusantara. Hal ini menjadi sesuatu yang hampir tidak pernah disinggung dalam buku-buku sejarah kita.

Beruntung saat ini, rencana peresmian tugu titik nol Nusantara atau Tugu Islam Indonesia menjadi sebuah sinyalemen bahwa keberadaan Barus, Tapanuli Tengah, dapat dijadikan pusat peradaban Islam. Para ulama Islam dari berbagai wilayah pernah malakukan pelayaran di daerah tersebut, bahkan Marcopolo pernah mendiami pelabuhan itu karena setelah awal-awal tahun masehi pusat perdagangan ekspor produk kapur barusnya telah mendunia (republika).

Prasasti Islam Nusantara
Secara konstitusi, siapa saja boleh menjalankan budaya lokal atau adat istiadat asal tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keberadaan budaya lokal Sumatera Utara bersentuhan erat dengan pola keberagamaan yang ada, di mana masyarakatnya bisa menjalankan kehidupan yang majemuk hidup rukun berdampingan satu sama lainnya.

Toleransi dalam beragama telah berjalan ratusan tahun di Sumatera Utara, adat istiadat tidak jarang memberikan penopang yang kuat dalam memaknai kehidupan, tentu hal ini merupakan perintah keagungan dalam beragama (Islam) itu sendiri, dalam qaedah ushul fiqh disebutkan al adatu muhakkamah yang artinya adat itu bisa menjadi dasar hukum dalam ritual keagamaan.

Mokhtar Lubis menyampaikan bahwa Willem Iskander putra asli daerah Mandailing Natal, yang mengungkapan syair dan karyanya merupakan kajian yang diangkat dari unsur agama dan kebudayaan. Perpaduan ini diramu sedemikian rupa sehingga terpadu menjadi ungkapan filosofis. Suatu ungkapan yang merupakan falsafah hidup yang bernafaskan agama, kebudayaan dan cita-cita kemajuan.

Melihat perkembangan adat dan agama yang cukup harmonis di Sumatera Utara serta tumbuhnya nilai-nilai adat yang berjalan bersama, maka dapat dipastikan bahwa Islam di Sumatera Utara merupakan corak keberagamaan yang sesuai dengan kultur Nusantara, prasasti dan sejarah membuktikan Islam di Sumatera Utara merupakan identitas pengembangan Islam Nusantara.
Semoga dengan adanya Silatnas yang mengambil tema Indonesia Martangiang (Indonesia berdoa) dapat memberikan kesejukan buat bangsa dan Sumatera Utara khususnya.

Rahmat Kurnia Lubis
Pengamat Sosial Keagamaan dan Putra Asli Mandailing Natal