Pancasila, Islam, Pemuda dan Arti Kemerdekaan Indonesia

SumutMantap.com. Memasuki Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Republik Indonesia ke 72, kita patut bersyukur atas nikmat dan hidayah Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada kita sebagai bangsa dan negara yang luas, kaya akan sumber daya alam, dan masyarakat yang hidup dengan damai dan toleran.

Anugerah Ke-Indonesia-an yang kita punya meliputi beberapa pilar kebangsan yang dapat mengayomi berbagai etnis, suku, dan bangsa, seperti Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Dari pilar ini, masyarakat Indonesia bisa hidup di dalam lingkungan yang beragam.

Pancasila sebagai prinsip dasar negara yang meliputi; Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan spitual dan moral; Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab sebagai landasan etika; Persatuan Indonesia sebagai acuan sosial; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan sebagai landasan politik; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai tujuan.

Memasuki usia ke-72, mestinya Pancasila tidak boleh dipertanyakan lagi, apalagi ditentang oleh sebagian kelompok tertentu. Sila-sila Pancasila tersebut dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di tingkat lembaga pemerintah, partai politik, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, serta di tengah-tengah masyarakat.

Perjalanan kemerdekaan harus terus dijalankan, masyarakat dan pemimpin mesti bahu membahu mewujudkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu makna penting untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbeda dari negara-negara lain terutama soal konstitusi, kemaslahatan dan kesejahteraan.

Selain itu, prinsip kemerdekaan sejalan dengan konsep fikih dalam Islam, bahwa kemerdekaan merupakan syarat taklif (memikul perintah/larangan). Bahwa inti pesan Islam dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah taklif untuk berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan.

Secara implisit Islam menghendaki setiap manusia merdeka untuk memilih, bukan sebagai hamba yang terbelenggu berada dalam ancaman. Kemerdekaan adalah salah satu syarat mutlak bagi keotentikan manusia. Tanpa mandat ini, maka manusia hanya setara dengan binatang.

Jadi salah satu amal sholeh yang paling utama dan tinggi adalah memberikan kemerdekaan atau memerdekakan “budak”, manusia yang terjajah, tertindas dalam belenggu oleh kemauan pihak lain.

Sebagaimana firman Allah SWT; “wamaa idrooka mal’aqobah, fak’ku roqobatin au-ith’amunm fii yaumin dzii masnghobah, yatiiman dzaa maqrobatin au miskiinan dza mathrobatin.”

Artinya tahukan engkau apa itu aqobah? adalah memerdekakan orang yang terbelenggu, terjajah atau memberi makan di hari sulit kepada orang yatim atau orang miskin. (QS al-Balad (90):12-16).

Disamping itu seorang sahabat Rasulullah SAW yakni Umar masa kholifah Islam ke 2 dalam salah satu ucapannya mengatakan: “matassta’abadtumunnaasa wa-qod waladathum ahrooron ummahaatuhum.”

Artinya kapan kalian anggap manusia-manusia itu budak? padahal ibu mereka telah melahirkannya dalam keadaan merdeka? (Ibnu al-Jauzi, Qishah Umar, 118)

Dalam memaknai kemerdekaan, generasi muda punya tugas dan tanggungjawab melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Sebagai calon pemimpin bangsa, pemuda harus berani melakukan terobosan yang inovatif dan kreatif dalam upaya pembangunan bangsa dan negara.

Pemuda mesti bisa tampil di depan melakukan penguatan sendi-sendi sosial kenegaraan. Pemuda dapat melakukan dialog publik merangkul berbagai organisasi kemasyarakatan baik yang berasas islam maupun nasionalis untuk mengampanyekan kedamaian dan  mentransformasikan pemahaman agama yang sejuk dan toleran.

Kekerasan yang berbau agama di negeri ini mudah sekali membara. Salah satu faktornya, yakni dangkalnya pengetahuan agama. Banyak ayat-ayat al qur’an yang dipahami secara radikal, sehingga mendorong gerakan provokatif dan berlanjut pada tindakan anarkisme.

Isu radikalisme agama di Indonesia telah masuk melalui teknologi dan dunia maya. Akibatnya, ada banyak pemuda memahami agama dan dari media sosial yang bersifat doktrinal. Dengan itu, kaum muda mesti bisa menyaring berbagai informasi yang ada, termasuk soal isu radikalisme agama.

Oleh: Raidong Habibi Rambe
(Alumni Pascasarjana ICAS Paramadina)